Kamis, 01 Agustus 2019

Pemimpi Kematian


PEMIMPI KEMATIAN

Ini sebuah kisah anak manusia yang menggambarkan dirinya sebagai perempuan penunggu kematian. Ia selalu menyukai tempat teduh penuh pepohonan. Katanya, “aku ingin kematianku sedamai ini. Burung-burung berkicau. Daun-daun menari. Dan angin riang membelai selimut sungai. Mereka akan mengantarku dengan senyum kehilangan dan kenangan”. Sebut saja namanya Rinda.
*****
Dari sekian kesedihan, hanya satu hal yang sangat menyakitkan. Melihat orang tua yang paling kamu sayangi meregang nyawa tanpa bisa kamu membantu apa-apa. bahkan, permintaan terakhirnya pun tidak bisa kamu beri. Kepedihan yang lebih pedih lagi, ketika kamu mampu berbaring di sampingnya namun kamu tak diperbolehkan memeluknya. Dan kepedihan yang lebih pedih lagi, kamu tak mampu memaafkan dirimu dan harus selalu menutupinya dengan tawa.
“Rin... kamu kenapa?” tanya Ivan yang sedari tadi hanya diam memandangi Rinda. Sedangkan Rinda tetap asik memejamkan mata dan sesekali memandang bintang sambil bergelayut di sandaran tiang.
“Enggak. Eh, bintangnya nambah.” Seru Rinda riang sambil menunjuk arah ke bintang.
“Perasaan dari tadi bintangnya satu aja.”
“Ish... itu empat... eh, nambah lagi. Tuh! Satu, dua, tiga, empat, lima, enam.” Sambil menunjuk bintang satu per satu.
“Bagiku, hanya ada satu bintang saja yang terang dari tadi.” Jawabnya. Malam ini mendung berhenti menampakkan diri. Mereka kabur begitu saja ketika Rinda dan Ivan duduk menatap mereka dari tepi Tepian. Sesekali pengamen lalu-lalang menyanyikan lagu yang entah nadanya kabur kemana. Orang-orang saling berbisik-bisik membicarakan suatu hal. mungkin tentang Rinda dan Ivan. Tapi mereka tidak menghiraukan. Bagi Rinda, toh, Ivan hanya sahabat dekat. Kapal derek batu bara berlayar perlahan. Kerlip cahayanya memantul ke air sungai lalu bias ke langit. Rinda masih terus sibuk dengan pikirannya. Ini adalah bulan kematian Ibunya. Orang tua yang amat sangat ia sayang namun mungkin juga paling sering ia sakiti.
“Rin. Jangan tidur di situ!” seru Ivan
“Terus di mana?” sekejap Rinda telah merebahkan kepalanya ke bahu Ivan. Ivan yang begitu polos menarik nafasnya dengan berat sejak ia menyadari posisinya. Mungkin dia memang orangnya tenang atau barangkali juga tegang. Yang pasti, Ia tidak bergerak bahkan hanya untuk mengusir nyamuk. Sedangkan Rinda terus meneteskan air mata sambil memegang erat lengan baju Ivan. Ia sadari, kini baju Ivan basah oleh air matanya. “Aku rindu mamaku....” desahnya dalam hati yang langsung disambut deraian air mata yang semakin tak terbendung. Detik demi detik mengumpul menjadi menit.
“Ah.” Desahnya sambil membangkitkan tubuh dari sandaran. Dihapusnya air mata yang masih tersisa di ujung mata. Ivan memandanginya tanpa berkedip. Sorot mata lembut yang entah mengapa tidak pernah dapat  Rinda pahami. “Ish, apa sih.” Seru Rinda sambil mendorong wajahnya hingga berpaling ke kiri. “Tak ‘kan lelah... aku menanti. tak ‘kan hilang... cintaku ini. Hingga saat kau tak kembali. ‘kan kukenang di hati saja...” Rinda mencoba bersenandung dengan nada sumbang mengikuti lagu yang sedang diputar oleh penjual nasi goreng di sebelah patung pesut. Ivan masih terus memandanginya seakan-akan ingin mencari rahasia yang coba ditutupi Rinda. Dan lagi-lagi Rinda hanya bisa menggerutu sambil mendorong wajahnya.
“Kamu yang kenapa.” Tanyanya serius.
“Hahaha... nyanyi lah. Suaraku jelek betul ya? setidaknya nggak separah anak-anak pengamen tadi lah.” Seru Rinda sambil terus mencoba menunjukkan ekspresi seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Ia mencoba untuk tetap tertawa seperti biasa. “Nah, kan. Nggak bakal dapat ikan kalau mancing di sini. Buang-buang waktu aja.” Serunya sambil menatap orang yang sedang memancing.
“Belum. Nanti juga bakal dapat. Jangan didoain nggak bagus makanya.”
“Loh, aku nggak doain. Aku cuma nebak kalau nggak bakal dapat ikan kalau mancing di sini.”
“Trus mesti mancing di mana?”
“Di laut lah. Atau mau yang pasti, ya di pasar.”
“Rin.... kamu bahagia?” tanyanya tiba-tiba dengan suara lebih lembut menelusuk tiap pori-pori udara untuk mencari kepastian.
“Apa sih....”
“Kamu tuh ya... pintar betul buat orang bahagia. Tapi nggak bisa bahagiain diri sendiri. Jangan terlalu sering menutupi kesedihan dengan tawa. Itu cuma bikin kamu tersiksa.”
“Hahaha... apa sih...” kilahnya lagi.
“Jangan terlalu terlihat selalu strong, Rin. Kalau mau nangis, nangis aja...”
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang bisa dia dengar darinya. Rinda langsung merengkuh lengan dan bahunya lagi. Terlalu sakit memang tertawa lepas namun ketika sendiri merasa benar-benar lemah. Rinda mulai merasakan dadanya terasa semakin sesak. Air matanya deras mengalir membasahi jaket hitam Ivan, sedangkan lengan kanannya dikuasai Rinda dengan cengkraman yang semakin kuat untuk berusaha menguatkan diri. “Menangis aja kalau kamu pengen nangis. Jangan ditahan-tahan lagi, Rin...” ucapnya lagi ketika Rinda menahan untuk tidak menangis lagi. Akhirnya Rinda menumpahkan semua air kepedihannya yang tertumpuk dalam dada sekian lama. Entah sudah berapa banyak bintang yang muncul dari balik selimut awan. Entah sudah berapa kali ombak sungai menghantam dinding pembatas. Entah sudah sampai mana kapal batu bara berlayar merayapi air secara perlahan. Bahkan, bisik-bisik orang yang sedang mengobrol di belakang pun, sudah tidak dapat lagi diterka. Rinda masih terlalu sibuk mengutarakan perasaannya yang paling jujur ke dirinya sendiri. Bahkan bisik angin yang begitu lekat menggambarkan perasaan lelaki yang bahunya kini disandari pun ia tak dapat.





16 Februari 2019

Kuncup Kelabu


Kuncup Kelabu

Aku masih terdiam di depan Lina. Otakku berpikir keras mencari cara, sedang mulut terus berucap entah apa, yang penting ada. Untuk kesekian kali aku masih beristighfar, mencoba menenangkan diri meski pada akhirnya tetap gagal. Mengapa harus aku ya Allah... Toby, bolehkah aku tak menyampaikan pesanmu?
“Ir, katanya mau ada ngomong serius? Apa? Perasaan dari tadi bercanda terus.”
“Habiskan dulu makanmu. Nanti kamu tersedak.” Jawabku mengulur waktu. Sudah satu jam kita makan di sini. Pengunjung warung mie pangsit sudah berganti rupa. Sesekali pelayan warung membersihkan meja yang telah ditinggal pengunjungnya. Meja ini. Meja tempat aku duduk adalah meja  yang pernah kutempati saat makan malam berdua bersama Toby.
*****
Ia datang setelah beberapa menit aku menunggunya. Bibirnya senyum, tapi aku yakin ada sesuatu yang sedang dipendam.
“Kenapa Ir?” tanyanya sambil menempatkan diri duduk di sebelahku dengan tas ranselnya sebagai hijab antara kita. Sore itu cuaca begitu dingin. Hujan deras baru saja mengguyur kota Samarinda. Mahasiswa-mahasiswa bersembunyi di dalam ruangan sekretariat UKM mereka masing-masing. Sesekali mereka lewat di depan kita untuk ke WC atau naik ke lantai atas.
“Kamu tuh ya... coba tadi bilang kalau lagi di Perpustakaan Daerah. Kan mending tadi aku ke sana.” Sahutku nyolot sambil mengulur pembicaraan sebelum ke inti pembahasan.
“Saya ndak tau Plaza Mulia itu di mana. Kamu sih bilangnya PM, ya kukira PM Noor. Kan jadi lebih dekat kalau ke sini. Lagian saya juga butuh tempat sendiri untuk nggak diganggu.
“Susah betul ketemu kamu, eh!”
“Kenapa Ir? Tanyanya lagi langsung ke inti.
“Aku udah denger dari Susan. Dia juga minta bantu buat ngomong ke kamu. Kenapa kamu kambuh lagi?”
“Iya lah... saya ndak jadi mengundurkan diri dari jabatan ketua.”
“Kamu kalau kambuh kek gitu, mau lampiaskan ke orang, ngomong aja sama aku. Seratus kali kamu bilang mau melengserkan diri pun paling cuma kubalasin oh, yaudah, terserah kamu. Tapi jangan bilang kek gitu ke sekretarismu. Nangis tau dia pas malam itu. Kamu kalau ngomel ke aku, paling kuomelin balik. Tapi Lina? Dia masih belum paham ngehadepin kamu. Ya nangis lah dia.”
Ekspresi yang tadi ngejengkelin, sekejap tiba-tiba berubah jadi ketakutan. “Aih, betulan kah Ir? Haduuh... dilaknat sudah saya ini sama malaikat.” Toby menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Aku tau, dia sangat merasa bersalah.
“Aku loh ke sini jam 11 malam. Trus kuliat dia masih di sini, matanya bengkak. Trus kuantar lah pulang.”
“Haduuh...” jaket yang dia lepas sebelumnya, dia tutupkan ke kepalanya. “Malu saya, Ir. Dilaknat sudah saya ini sama malaikat.” Hari semakin sore. Lampu-lampu di gedung Student Center sudah mulai dinyalakan. Dingin semakin menggigit. Dia diam. Aku termenung tak bersuara. Kupandangi dia yang tak bermuka. Dan ternyata benar, dia menangis penuh penyesalan. Kutarik jaketnya, tapi dia semakin menahannya.
“Cukup sekali saya liat perempuan nangis gara-gara saya di kelas waktu SMA dulu.”
“Yang dia nembak kamu tapi kamu nggak mau itu kah?”
“Iya. Sejak saat itu, ndak mau saya liat perempuan nangis. Saya berpikir, bagaimana kalau yang saya buat nangis itu ibu saya.”
Tanpa dia ketahui, aku tersenyum. Betapa laki-laki ini sungguh memesona. Aku membahagiakan diriku sendiri, sedang dia masih terus menenangkan diri. Hari-hari berikutnya, tiada jadwal makan malam tanpa dia. Mulai dari makan soto lalu listrik padam terus dikasih lilin di tiap meja sehingga berasa candle light dinner, hingga ke Islamic Center bareng lalu sepanjang jalan cari tempat makan tapi ujung-ujungnya tetap makan di daerah Pramuka. Tiada waktu yang terasa panjang bersama dia. Makan hanya beberapa menit, ngobrol sampai tiga jam, itu adalah hal biasa yang sudah menjadi rutinitas. Banyak hal yang selalu kita bahas bersama. Mulai dari diskusi keagamaan, cerita tentang kondisi keluarga, membahas tentang organisasi, hingga menebak-nebak pengunjung warung; membedakan mana yang pacaran, mana yang suami istri, mana yang teman biasa, dan mana yang sahabat dekat. Hampir nggak ada obrolan yang garing dengannya. Semua hal menjadi asyik jika ada dia.
Malam berikutnya kita kembali makan bersama, tapi tidak berdua. Ada Lina dan Silla yang turut gabung. Tiada hal yang mengesankan. Disela-sela makan, hanya sesekali ada obrolan ringan. Lina menunjukkan obrolan chat bersama Toby kepadaku. Dan seperti biasa. Mereka ada masalah lagi. Selalu karena kesalahpahaman. Silla dan Lina pulang duluan karena takut kosnya sudah ditutup, maka tinggal lah aku dan Toby yang masih menghabiskan makan sekaligus membuka obrolan.
“Aku sudah tau apa artinya fatarobbatsu.” Beberapa hari yang lalu Toby memberikan pertanyaan tersebut kepadaku.
“Kok?... Oh.. saya tau. Pasti dari... tapi kok bisa?” tanyanya kebingungan.
“Tadi dia liatkan chat kalian ke aku. Kamu kenapa lagi sih?”
“Saya ngerasa diremehkan sama dia. Saya pernah bilang kan, Ir. Saya paling nggak suka diremehkan. Ini. Buat apa juga dia ambilkan kecap segala. Terlanjur kecewa saya sama dia. Profesional aja tadi saya.” Kuliat kecap yang telah ditumpahkan ke piring tempat lauknya, dan memang. Tidak sedikitpun kecap itu disentuhnya. Aku mencoba memberikan gambaran. Mencoba meyakinkan jika sekretaris nggak mungkin meremehkan dia. Obrolan pun mengalir tanpa muara.
“Eh, ada perempuan lagi tuh yang suka sama kamu. Anak band.”
“Aih, saya ndak mau Ir ada perempuan yang suka sama saya. Cukup waktu SMA itu aja yang sampai dia nangis di kelas. “
“Kalau aku yang suka sama kamu gimana?”
“Jangan eh. Betulan jangan Ir. Pasti beda nanti rasanya.”
“Andaikan ya.... andaikan ada perempuan yang bilang suka sama kamu. Saran kamu buat dia apa?”
“Gini loh, Ir. Perempuan sama laki-laki itu beda. Senakal-nakalnya laki-laki, kalau dia sudah bilang serius, dia bakal bener-bener serius. Beda sama perempuan. Perempuan itu masih labil. Gampang bilang suka lalu besoknya nggak. Karena ya itu, perempuan itu cuma butuh kepastian. Tapi kalau dia benar-benar suka sama aku, yaudah. Diam aja. Dipendam aja. Saya yakin kok. Kalau Allah berkehendak, pasti nanti dipersatukan.” Aku terdiam. Lagi-lagi dia membuatku kehabisan kata-kata. Desiran-desiran syahdu membelai hatiku. Ya Allah... ah nggak. Aku nggak boleh suka sama dia. Jangan.
Hari-hari selanjutnya kusibukkan untuk menata diri. Menyusun kepingan-kepingan hati untuk tidak condong padanya. Maa fi qolbi ghairullah. Kutinggalkan organisasi selama 10 hari. Aku dapat kerjaan untuk sebuah event di Big Mall. Sejak malam itu, malam ketika secara langsung kupertemukan Toby dan Lina untuk membahas kesalahpahaman mereka, aku tidak lagi berhubungan. Bukan aku bosan mendengar keluh kesah mereka, tapi menurutku itu yang terbaik.
Hari ini adalah hari ke enam aku bekerja dan memutuskan bolos kerja karena Toby sedang butuh teman untuk menyelesaikan masalah organisasi sekaligus masalah pribadinya. Hari ini, tepat 12 jam yang lalu, 02.15 Wita, Toby kembali menghubungiku dan meminta pendapat sekaligus bantuan untuk hal lain. Permohonan yang sampai sekarang masih kupertimbangkan. Permohonan yang meluluhlantakkan segalanya. Permohonan yang membuat jantungku tiba-tiba berhenti lalu berdetak cepat. Permohonan yang.... ya Allah, mengapa harus aku?
“Ir... kenapa sih?” tanya Lina lagi ketika bosan menebak gelagatku.
“Ndak apa. Bentar, aku balas chat temanku.” Kuulur waktu untuk menenangkan diri dengan memainkan telepon genggamku. “Oh iya, gimana menurutmu kalau kamu dilamar?” tanyaku akhirnya.
“Ha? Kamu dilamar, Ir?” tanya Lina kebingungan.
“Ya nggak lah. Aku cuma nanya aja, gimana pendapatmu.”
“Ya nggak apa. Tapi nikahnya nanti kalau udah lulus kuliah”
“Berarti kamu mau?”
“Mau. Asal aku udah kenal dia sebelumnya. Aku tau akhlaknya, agamanya.”
“Oh... okay. Eh, kamu suka nggak sih sama Toby?”
“Nggak. Aku nggak mau suka sama laki-laki, Ir. Untuk saat ini aku nggak mau.”
“Di luar dari urusan organisasi, kamu suka nggak?”
“Dulu aja. Sekarang aku nggak mau suka terlalu fanatik kek dulu.”
“Emmm.... kalau yang ngelamar kamu itu Toby gimana?” akhirnya aku bisa. Lina masih syok. Sesaat wajahnya memerah tanpa kata, lalu mengelak. Sedangkan aku masih menekan perasaan. Meraba keadaan hati yang entah sekarang bagaimana bentuknya.
“Aih, kamu nanyanya pada waktu yang nggak tepat, Ir. Astaghfirullah.... jangan buat aku berharap na, Ir. Aku nggak mau hijrahku jadi gagal.”
“Jawab aja. Terlepas dari prinsipmu sekarang, andaikan kamu dilamar Toby, kamu mau nggak?”
“Mau.” Oh Tuhan... seharusnya tanpa aku tanya pun aku sudah tau jawabannya. Bodohnya aku yang sudah tau itu jarum namun malah kutancap ke pori-pori.
“Aku rasa aku nanya ini sekarang itu tepat karena dia yang minta tolong aku sampaikan ini ke kamu.” Lagi-lagi aku melihat wajahnya memerah. Ya, aku tahu dia syok. Sebagaimana saat pertama kali aku membaca chat dia subuh itu. Chat yang tak sanggup lagi kubalas menggunakan kata-kata, hanya emoticon senyum.
“Ir...”
“Kenapa? Kamu nggak percaya? Aku awalnya juga nggak percaya. Makanya malam ini aku mau ketemu sama dia. Mau kupastikan lagi.”
“Tapi kok bisa...”
“Bentar ya... nih, kutunjukkan chat-nya.” Maka tersampaikanlah semua isi chat Toby yang pagi tadi benar-benar telah membatalkan jadwal tidurku. Gimana kalau aku datang ke rumah orang tuanya terus kubacakan surah An-Nur ayat 32 sekaligus hadits nabi?. Sungguh, masih benar-benar ingat bagaimana saat itu aku langsung menyambar alquranku lalu membaca terjemahan ayat tersebut. Betapa dalam sekejap tubuhku menjadi kaku, mataku berair, ada kata yang tak dapat terucap. Betapa saat itu diiringi rintik hujan, aku menghujam perasaanku sendiri dengan segala pengharapan yang kumiliki. Aku kehilangan lagi.
*****
Aku sudah duduk di depan Toby. Duduk di meja yang sudah khatam dengan kehadiran kita. Aku tak mampu berbicara, tapi harus berkata. Kuceritakan hasil pertemuanku dengan Lina. Kuceritakan pula bagaimana susahnya aku mengungkapkan titipan pesannya.
“Dari sekian banyak perempuan yang suka sama kamu, kenapa Lina yang ingin kamu seriusin?” tanyaku penasaran.
“Setidaknya dia sudah hijrah, ya meskipun saya yang duluan. Tapi nanti bisa kok saya yang ngajarin dia. Untuk alasan yang lain, cukup biar saya aja yang tahu. Kenapa? Kamu meragukan saya?”
“Bukan... tapi secepat-cepatnya kalian nikah, pasti nunggu lulus kan? Secepat-cepatnya kamu lulus, masih satu tahun lagi. Dia, secepat-cepatnya dia lulus masih dua tahun lagi. Ya aku takut aja.”
“Insya Allah saya mencintai seseorang karena Allah. Tolong sampaikan ke dia, ‘jagalah hatimu, insya Allah saya sudah lama menjaga.’”
“Toby... dibalik tawa, ada hati yang patah.”

Soal Perbaikan Nilai Semester I--IV

Memuat…