Jumat, 02 Agustus 2019
Kamis, 01 Agustus 2019
Pemimpi Kematian
PEMIMPI KEMATIAN
Ini
sebuah kisah anak manusia yang menggambarkan dirinya sebagai perempuan penunggu
kematian. Ia selalu menyukai tempat teduh penuh pepohonan. Katanya, “aku ingin
kematianku sedamai ini. Burung-burung berkicau. Daun-daun menari. Dan angin
riang membelai selimut sungai. Mereka akan mengantarku dengan senyum kehilangan
dan kenangan”. Sebut saja namanya Rinda.
*****
Dari sekian kesedihan, hanya satu hal yang sangat
menyakitkan. Melihat orang tua yang paling kamu sayangi meregang nyawa tanpa
bisa kamu membantu apa-apa. bahkan, permintaan terakhirnya pun tidak bisa kamu
beri. Kepedihan yang lebih pedih lagi, ketika kamu mampu berbaring di
sampingnya namun kamu tak diperbolehkan memeluknya. Dan kepedihan yang lebih
pedih lagi, kamu tak mampu memaafkan dirimu dan harus selalu menutupinya dengan
tawa.
“Rin... kamu kenapa?” tanya Ivan yang sedari tadi
hanya diam memandangi Rinda. Sedangkan Rinda tetap asik memejamkan mata dan
sesekali memandang bintang sambil bergelayut di sandaran tiang.
“Enggak. Eh, bintangnya nambah.” Seru Rinda riang
sambil menunjuk arah ke bintang.
“Perasaan dari tadi bintangnya satu aja.”
“Ish... itu empat... eh, nambah lagi. Tuh! Satu,
dua, tiga, empat, lima, enam.” Sambil menunjuk bintang satu per satu.
“Bagiku, hanya ada satu bintang saja yang terang
dari tadi.” Jawabnya. Malam ini mendung berhenti menampakkan diri. Mereka kabur
begitu saja ketika Rinda dan Ivan duduk menatap mereka dari tepi Tepian.
Sesekali pengamen lalu-lalang menyanyikan lagu yang entah nadanya kabur kemana.
Orang-orang saling berbisik-bisik membicarakan suatu hal. mungkin tentang Rinda
dan Ivan. Tapi mereka tidak menghiraukan. Bagi Rinda, toh, Ivan hanya sahabat
dekat. Kapal derek batu bara berlayar perlahan. Kerlip cahayanya memantul ke
air sungai lalu bias ke langit. Rinda masih terus sibuk dengan pikirannya. Ini
adalah bulan kematian Ibunya. Orang tua yang amat sangat ia sayang namun
mungkin juga paling sering ia sakiti.
“Rin. Jangan tidur di situ!” seru Ivan
“Terus di mana?” sekejap Rinda telah merebahkan
kepalanya ke bahu Ivan. Ivan yang begitu polos menarik nafasnya dengan berat
sejak ia menyadari posisinya. Mungkin dia memang orangnya tenang atau
barangkali juga tegang. Yang pasti, Ia tidak bergerak bahkan hanya untuk
mengusir nyamuk. Sedangkan Rinda terus meneteskan air mata sambil memegang erat
lengan baju Ivan. Ia sadari, kini baju Ivan basah oleh air matanya. “Aku rindu
mamaku....” desahnya dalam hati yang langsung disambut deraian air mata yang
semakin tak terbendung. Detik demi detik mengumpul menjadi menit.
“Ah.” Desahnya sambil membangkitkan tubuh dari
sandaran. Dihapusnya air mata yang masih tersisa di ujung mata. Ivan memandanginya
tanpa berkedip. Sorot mata lembut yang entah mengapa tidak pernah dapat Rinda pahami. “Ish, apa sih.” Seru Rinda
sambil mendorong wajahnya hingga berpaling ke kiri. “Tak ‘kan lelah... aku
menanti. tak ‘kan hilang... cintaku ini. Hingga saat kau tak kembali. ‘kan
kukenang di hati saja...” Rinda mencoba bersenandung dengan nada sumbang mengikuti
lagu yang sedang diputar oleh penjual nasi goreng di sebelah patung pesut. Ivan
masih terus memandanginya seakan-akan ingin mencari rahasia yang coba ditutupi
Rinda. Dan lagi-lagi Rinda hanya bisa menggerutu sambil mendorong wajahnya.
“Kamu yang kenapa.” Tanyanya serius.
“Hahaha... nyanyi lah. Suaraku jelek betul ya?
setidaknya nggak separah anak-anak pengamen tadi lah.” Seru Rinda sambil terus
mencoba menunjukkan ekspresi seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Ia mencoba
untuk tetap tertawa seperti biasa. “Nah, kan. Nggak bakal dapat ikan kalau
mancing di sini. Buang-buang waktu aja.” Serunya sambil menatap orang yang
sedang memancing.
“Belum. Nanti juga bakal dapat. Jangan didoain
nggak bagus makanya.”
“Loh, aku nggak doain. Aku cuma nebak kalau nggak
bakal dapat ikan kalau mancing di sini.”
“Trus mesti mancing di mana?”
“Di laut lah. Atau mau yang pasti, ya di pasar.”
“Rin.... kamu bahagia?” tanyanya tiba-tiba dengan
suara lebih lembut menelusuk tiap pori-pori udara untuk mencari kepastian.
“Apa sih....”
“Kamu tuh ya... pintar betul buat orang bahagia.
Tapi nggak bisa bahagiain diri sendiri. Jangan terlalu sering menutupi
kesedihan dengan tawa. Itu cuma bikin kamu tersiksa.”
“Hahaha... apa sih...” kilahnya lagi.
“Jangan terlalu terlihat selalu strong, Rin. Kalau
mau nangis, nangis aja...”
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang bisa dia dengar
darinya. Rinda langsung merengkuh lengan dan bahunya lagi. Terlalu sakit memang
tertawa lepas namun ketika sendiri merasa benar-benar lemah. Rinda mulai
merasakan dadanya terasa semakin sesak. Air matanya deras mengalir membasahi
jaket hitam Ivan, sedangkan lengan kanannya dikuasai Rinda dengan cengkraman
yang semakin kuat untuk berusaha menguatkan diri. “Menangis aja kalau kamu
pengen nangis. Jangan ditahan-tahan lagi, Rin...” ucapnya lagi ketika Rinda
menahan untuk tidak menangis lagi. Akhirnya Rinda menumpahkan semua air
kepedihannya yang tertumpuk dalam dada sekian lama. Entah sudah berapa banyak
bintang yang muncul dari balik selimut awan. Entah sudah berapa kali ombak
sungai menghantam dinding pembatas. Entah sudah sampai mana kapal batu bara
berlayar merayapi air secara perlahan. Bahkan, bisik-bisik orang yang sedang
mengobrol di belakang pun, sudah tidak dapat lagi diterka. Rinda masih terlalu
sibuk mengutarakan perasaannya yang paling jujur ke dirinya sendiri. Bahkan
bisik angin yang begitu lekat menggambarkan perasaan lelaki yang bahunya kini disandari
pun ia tak dapat.
16 Februari 2019
Kuncup Kelabu
Kuncup
Kelabu
Aku masih terdiam di
depan Lina. Otakku berpikir keras mencari cara, sedang mulut terus berucap
entah apa, yang penting ada. Untuk kesekian kali aku masih beristighfar,
mencoba menenangkan diri meski pada akhirnya tetap gagal. Mengapa harus aku ya Allah... Toby, bolehkah aku tak menyampaikan
pesanmu?
“Ir, katanya mau ada
ngomong serius? Apa? Perasaan dari tadi bercanda terus.”
“Habiskan dulu makanmu.
Nanti kamu tersedak.” Jawabku mengulur waktu. Sudah satu jam kita makan di
sini. Pengunjung warung mie pangsit sudah berganti rupa. Sesekali pelayan
warung membersihkan meja yang telah ditinggal pengunjungnya. Meja ini. Meja tempat
aku duduk adalah meja yang pernah
kutempati saat makan malam berdua bersama Toby.
*****
Ia datang setelah
beberapa menit aku menunggunya. Bibirnya senyum, tapi aku yakin ada sesuatu
yang sedang dipendam.
“Kenapa Ir?” tanyanya
sambil menempatkan diri duduk di sebelahku dengan tas ranselnya sebagai hijab
antara kita. Sore itu cuaca begitu dingin. Hujan deras baru saja mengguyur kota
Samarinda. Mahasiswa-mahasiswa bersembunyi di dalam ruangan sekretariat UKM
mereka masing-masing. Sesekali mereka lewat di depan kita untuk ke WC atau naik
ke lantai atas.
“Kamu tuh ya... coba
tadi bilang kalau lagi di Perpustakaan Daerah. Kan mending tadi aku ke sana.”
Sahutku nyolot sambil mengulur pembicaraan sebelum ke inti pembahasan.
“Saya ndak tau Plaza
Mulia itu di mana. Kamu sih bilangnya PM, ya kukira PM Noor. Kan jadi lebih
dekat kalau ke sini. Lagian saya juga butuh tempat sendiri untuk nggak
diganggu.
“Susah betul ketemu
kamu, eh!”
“Kenapa Ir? Tanyanya
lagi langsung ke inti.
“Aku udah denger dari
Susan. Dia juga minta bantu buat ngomong ke kamu. Kenapa kamu kambuh lagi?”
“Iya lah... saya ndak
jadi mengundurkan diri dari jabatan ketua.”
“Kamu kalau kambuh kek
gitu, mau lampiaskan ke orang, ngomong aja sama aku. Seratus kali kamu bilang
mau melengserkan diri pun paling cuma kubalasin oh, yaudah, terserah kamu. Tapi jangan bilang kek
gitu ke sekretarismu. Nangis tau dia pas malam itu. Kamu kalau ngomel ke aku,
paling kuomelin balik. Tapi Lina? Dia masih belum paham ngehadepin kamu. Ya
nangis lah dia.”
Ekspresi yang tadi
ngejengkelin, sekejap tiba-tiba berubah jadi ketakutan. “Aih, betulan kah Ir?
Haduuh... dilaknat sudah saya ini sama malaikat.” Toby menutup wajahnya
menggunakan kedua tangannya. Aku tau, dia sangat merasa bersalah.
“Aku loh ke sini jam 11
malam. Trus kuliat dia masih di sini, matanya bengkak. Trus kuantar lah
pulang.”
“Haduuh...” jaket yang
dia lepas sebelumnya, dia tutupkan ke kepalanya. “Malu saya, Ir. Dilaknat sudah
saya ini sama malaikat.” Hari semakin sore. Lampu-lampu di gedung Student Center sudah mulai dinyalakan.
Dingin semakin menggigit. Dia diam. Aku termenung tak bersuara. Kupandangi dia
yang tak bermuka. Dan ternyata benar, dia menangis penuh penyesalan. Kutarik
jaketnya, tapi dia semakin menahannya.
“Cukup sekali saya liat
perempuan nangis gara-gara saya di kelas waktu SMA dulu.”
“Yang dia nembak kamu
tapi kamu nggak mau itu kah?”
“Iya. Sejak saat itu,
ndak mau saya liat perempuan nangis. Saya berpikir, bagaimana kalau yang saya
buat nangis itu ibu saya.”
Tanpa dia ketahui, aku
tersenyum. Betapa laki-laki ini sungguh memesona. Aku membahagiakan diriku
sendiri, sedang dia masih terus menenangkan diri. Hari-hari berikutnya, tiada
jadwal makan malam tanpa dia. Mulai dari makan soto lalu listrik padam terus
dikasih lilin di tiap meja sehingga berasa candle
light dinner, hingga ke Islamic
Center bareng lalu sepanjang jalan cari tempat makan tapi ujung-ujungnya tetap
makan di daerah Pramuka. Tiada waktu yang terasa panjang bersama dia. Makan
hanya beberapa menit, ngobrol sampai tiga jam, itu adalah hal biasa yang sudah menjadi
rutinitas. Banyak hal yang selalu kita bahas bersama. Mulai dari diskusi
keagamaan, cerita tentang kondisi keluarga, membahas tentang organisasi, hingga
menebak-nebak pengunjung warung; membedakan mana yang pacaran, mana yang suami
istri, mana yang teman biasa, dan mana yang sahabat dekat. Hampir nggak ada
obrolan yang garing dengannya. Semua hal menjadi asyik jika ada dia.
Malam berikutnya kita
kembali makan bersama, tapi tidak berdua. Ada Lina dan Silla yang turut gabung.
Tiada hal yang mengesankan. Disela-sela makan, hanya sesekali ada obrolan
ringan. Lina menunjukkan obrolan chat
bersama Toby kepadaku. Dan seperti biasa. Mereka ada masalah lagi. Selalu
karena kesalahpahaman. Silla dan Lina pulang duluan karena takut kosnya sudah
ditutup, maka tinggal lah aku dan Toby yang masih menghabiskan makan sekaligus
membuka obrolan.
“Aku sudah tau apa
artinya fatarobbatsu.” Beberapa hari
yang lalu Toby memberikan pertanyaan tersebut kepadaku.
“Kok?... Oh.. saya tau.
Pasti dari... tapi kok bisa?” tanyanya kebingungan.
“Tadi dia liatkan chat kalian ke aku. Kamu kenapa lagi
sih?”
“Saya ngerasa diremehkan
sama dia. Saya pernah bilang kan, Ir. Saya paling nggak suka diremehkan. Ini.
Buat apa juga dia ambilkan kecap segala. Terlanjur kecewa saya sama dia.
Profesional aja tadi saya.” Kuliat kecap yang telah ditumpahkan ke piring
tempat lauknya, dan memang. Tidak sedikitpun kecap itu disentuhnya. Aku mencoba
memberikan gambaran. Mencoba meyakinkan jika sekretaris nggak mungkin
meremehkan dia. Obrolan pun mengalir tanpa muara.
“Eh, ada perempuan lagi
tuh yang suka sama kamu. Anak band.”
“Aih, saya ndak mau Ir
ada perempuan yang suka sama saya. Cukup waktu SMA itu aja yang sampai dia
nangis di kelas. “
“Kalau aku yang suka
sama kamu gimana?”
“Jangan eh. Betulan
jangan Ir. Pasti beda nanti rasanya.”
“Andaikan ya....
andaikan ada perempuan yang bilang suka sama kamu. Saran kamu buat dia apa?”
“Gini loh, Ir.
Perempuan sama laki-laki itu beda. Senakal-nakalnya laki-laki, kalau dia sudah
bilang serius, dia bakal bener-bener serius. Beda sama perempuan. Perempuan itu
masih labil. Gampang bilang suka lalu besoknya nggak. Karena ya itu, perempuan
itu cuma butuh kepastian. Tapi kalau dia benar-benar suka sama aku, yaudah.
Diam aja. Dipendam aja. Saya yakin kok. Kalau Allah berkehendak, pasti nanti
dipersatukan.” Aku terdiam. Lagi-lagi dia membuatku kehabisan kata-kata.
Desiran-desiran syahdu membelai hatiku. Ya
Allah... ah nggak. Aku nggak boleh suka sama dia. Jangan.
Hari-hari selanjutnya
kusibukkan untuk menata diri. Menyusun kepingan-kepingan hati untuk tidak
condong padanya. Maa fi qolbi ghairullah.
Kutinggalkan organisasi selama 10 hari. Aku dapat kerjaan untuk sebuah event di Big Mall. Sejak malam itu, malam ketika secara langsung
kupertemukan Toby dan Lina untuk membahas kesalahpahaman mereka, aku tidak lagi
berhubungan. Bukan aku bosan mendengar keluh kesah mereka, tapi menurutku itu
yang terbaik.
Hari ini adalah hari ke
enam aku bekerja dan memutuskan bolos kerja karena Toby sedang butuh teman
untuk menyelesaikan masalah organisasi sekaligus masalah pribadinya. Hari ini,
tepat 12 jam yang lalu, 02.15 Wita, Toby kembali menghubungiku dan meminta
pendapat sekaligus bantuan untuk hal lain. Permohonan yang sampai sekarang
masih kupertimbangkan. Permohonan yang meluluhlantakkan segalanya. Permohonan yang
membuat jantungku tiba-tiba berhenti lalu berdetak cepat. Permohonan yang....
ya Allah, mengapa harus aku?
“Ir... kenapa sih?”
tanya Lina lagi ketika bosan menebak gelagatku.
“Ndak apa. Bentar, aku
balas chat temanku.” Kuulur waktu untuk menenangkan diri dengan memainkan
telepon genggamku. “Oh iya, gimana menurutmu kalau kamu dilamar?” tanyaku
akhirnya.
“Ha? Kamu dilamar, Ir?”
tanya Lina kebingungan.
“Ya nggak lah. Aku cuma
nanya aja, gimana pendapatmu.”
“Ya nggak apa. Tapi
nikahnya nanti kalau udah lulus kuliah”
“Berarti kamu mau?”
“Mau. Asal aku udah
kenal dia sebelumnya. Aku tau akhlaknya, agamanya.”
“Oh... okay. Eh, kamu
suka nggak sih sama Toby?”
“Nggak. Aku nggak mau
suka sama laki-laki, Ir. Untuk saat ini aku nggak mau.”
“Di luar dari urusan
organisasi, kamu suka nggak?”
“Dulu aja. Sekarang aku
nggak mau suka terlalu fanatik kek dulu.”
“Emmm.... kalau yang
ngelamar kamu itu Toby gimana?” akhirnya aku bisa. Lina masih syok. Sesaat
wajahnya memerah tanpa kata, lalu mengelak. Sedangkan aku masih menekan
perasaan. Meraba keadaan hati yang entah sekarang bagaimana bentuknya.
“Aih, kamu nanyanya
pada waktu yang nggak tepat, Ir. Astaghfirullah....
jangan buat aku berharap na, Ir. Aku nggak mau hijrahku jadi gagal.”
“Jawab aja. Terlepas
dari prinsipmu sekarang, andaikan kamu dilamar Toby, kamu mau nggak?”
“Mau.” Oh Tuhan... seharusnya
tanpa aku tanya pun aku sudah tau jawabannya. Bodohnya aku yang sudah tau itu
jarum namun malah kutancap ke pori-pori.
“Aku rasa aku nanya ini
sekarang itu tepat karena dia yang minta tolong aku sampaikan ini ke kamu.”
Lagi-lagi aku melihat wajahnya memerah. Ya, aku tahu dia syok. Sebagaimana saat
pertama kali aku membaca chat dia
subuh itu. Chat yang tak sanggup lagi
kubalas menggunakan kata-kata, hanya emoticon
senyum.
“Ir...”
“Kenapa? Kamu nggak
percaya? Aku awalnya juga nggak percaya. Makanya malam ini aku mau ketemu sama
dia. Mau kupastikan lagi.”
“Tapi kok bisa...”
“Bentar ya... nih,
kutunjukkan chat-nya.” Maka
tersampaikanlah semua isi chat Toby
yang pagi tadi benar-benar telah membatalkan jadwal tidurku. Gimana kalau aku datang ke rumah orang
tuanya terus kubacakan surah An-Nur ayat 32 sekaligus hadits nabi?. Sungguh,
masih benar-benar ingat bagaimana saat itu aku langsung menyambar alquranku
lalu membaca terjemahan ayat tersebut. Betapa dalam sekejap tubuhku menjadi
kaku, mataku berair, ada kata yang tak dapat terucap. Betapa saat itu diiringi
rintik hujan, aku menghujam perasaanku sendiri dengan segala pengharapan yang
kumiliki. Aku kehilangan lagi.
*****
Aku sudah duduk di
depan Toby. Duduk di meja yang sudah khatam dengan kehadiran kita. Aku tak
mampu berbicara, tapi harus berkata. Kuceritakan hasil pertemuanku dengan Lina.
Kuceritakan pula bagaimana susahnya aku mengungkapkan titipan pesannya.
“Dari sekian banyak
perempuan yang suka sama kamu, kenapa Lina yang ingin kamu seriusin?” tanyaku
penasaran.
“Setidaknya dia sudah
hijrah, ya meskipun saya yang duluan. Tapi nanti bisa kok saya yang ngajarin
dia. Untuk alasan yang lain, cukup biar saya aja yang tahu. Kenapa? Kamu
meragukan saya?”
“Bukan... tapi
secepat-cepatnya kalian nikah, pasti nunggu lulus kan? Secepat-cepatnya kamu
lulus, masih satu tahun lagi. Dia, secepat-cepatnya dia lulus masih dua tahun
lagi. Ya aku takut aja.”
“Insya Allah saya
mencintai seseorang karena Allah. Tolong sampaikan ke dia, ‘jagalah hatimu,
insya Allah saya sudah lama menjaga.’”
“Toby... dibalik tawa,
ada hati yang patah.”
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PEMIMPI KEMATIAN Ini sebuah kisah anak manusia yang menggambarkan dirinya sebagai perempuan penunggu kematian. Ia selalu menyukai ...

